Ciptakan Suasana Tentram dalam Pemilu PP Assalam Kerisan Tak Ingin Warga Santri Jadi Korban Hoaks

16


SLEMAN – Keluarga besar santri di Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren (PP) Assalam, Kerisan, Banyurejo, Tempel, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar deklarasi pemilu 2019 damai tanpa Hoaks dan ujaran kebencian, Kamis (29/11/2018) sore.

Pengasuh PP Assalam, KH Mohammad Asyhari Zaenal Abidin mengungkapkan, deklarasi Pemilu 2019 damai tanpa Hoaks dan ujaran kebencian diselenggarakan untuk menjaga ketentraman khususnya di lingkungan masyarakat pesantren dan lebih luas bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Menurut Asyhari ketentraman adalah hal yang baku dibutuhkan setiap manusia,

“Orang bekerja, orang beribadah akan berjalan dengan baik, jika situasinya tentram” tuturnya usai deklarasi.

Deklarasi damai yang dilakukan di Pesantren menurutnya, sesuatu yang tepat. Dikatakan Asyhari, ada kemiripan antara Kyai dengan Polisi dalam hal tugas, yaitu sama-sama menjaga ketentraman,

“Kalau polisi menjaga keamanan, kalau kyai menjaga keimanan,” ujarnya.

Asyhari khawatir jika ujaran kebencian dan Hoaks dibiarkan dan tidak segera ditangani dengan serius, maka akan menghancurkan negara. Menurutnya, ujaran kebencian dan Hoaks niscaya akan membuat bangsa terpecah-belah dan dari kondisi demikian maka radikalisme dan separatisme akan berkembang,

“Jangan sampai terjadi seperti di Suriah ini yang lebih bahaya. Banyak di TV-TV yang membahas adanya gerakan-gerakan garis keras, ini yang negara harus ambil kebijakan untuk mencegah perpecahan. Saya mengharapkan seluruh pesantren, khususnya yang dari Nahdlatul Ulama melakukan deklarasi damai pemilu. Karena dari semua pesantren NU satu bahasa satu kehendak untuk menjaga ketentraman negara dalam bingkai NKRI,” tandasnya.

Ditegaskan Asyhari, peran santri cukup besar dalam menangkal Hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme. PP, kata dia, punya pondasi yang lebih kuat untuk mencegah berbagai kemungkinan perpecahan bangsa karena adanya kekompakan antara kyai dan santri,

“Kalau di pendidikan yang lain mungkin pengasuh sama siswanya lain suara. Tapi kalau di pondok pesantren satu arah, satu suara. Sehingga akan kuatlah pondok-pondok pesantren menjadi tameng,” tegasnya.

Asyhari juga berharap PP melalui santri-santrinya yang sudah ada di rumah maupun yang sudah mukim (lulus dari pesantren dan kembali ke rumahnya), nanti untuk mendeklarasikan pemilu damai tanpa Hoaks dan ujaran kebencian di kampungnya masing-masing,

“Marilah kerukunan kita utamakan, semua harus dikalahkan demi kerukunan, jangan sampai politik, pangkat, kedudukan, harta, mengalahkan kerukunan. Karena kerukunan adalah hal yang paling mahal. Kalau nabi bersabda yang paling pokok di dunia ini, pertama adalah iman, kemudian saling mencintai sesama manusia, yang artinya itu adalah kerukunan. Kerukunan akan menimbulkan kecintaan, kecintaan akan menimbulkan tolong menolong-menolong dan perdamaian,” tegasnya

Salah satu santri senior PP Assalam, Syarif Hidayat mengatakan meski Hoaks  dan ujaran kebencian di Media Sosial (Medsos), para santri di PP Assalam yang tidak akrab dengan dunia maya ingin berperan aktif dalam menangkal fenomena yang kian marak jelang Pemilu 2019 tersebut.

Syarif berharap agar Hoaks-Hoaks yang berkepanjangan selama tahun politik bisa berkurang atau bahkan hilang setelah ada deklarasi dari para santri, sehingga ukhuwah antar sesama anak bangsa semakin kuat.

Kendati mengakui kalangan santri kurang aktif di Medsos, namun pendidikan anti Hoaks untuk santri, dinilainya sangat penting,

“Santri untuk dunia sosmed itu kurang, adanya cuma lewat dengar. Kalau ada Hoaks, bisa dimakan mentah-mentah. Bahayanya di sini. Harapannya pihak yang berkompeten bisa memberikan pengetahuan kepada para santri mana yang benar mana yang tidak, supaya tidak menjadi korban Hoaks,” harapnya. (*)

 

comments icon 6 comments
6 notes
25 views
bookmark icon

Write a comment...

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *