Dalam Al-Quran Pohon Terang juga Dimaknai Sebagai Simbol Kebijaksanaan

1


Bagi umat Katolik dan Nasrani, Hari Natal merupakan momen yang begitu ditunggu-tunggu. Berbagai pernak-pernik dalam menyambut Natal dipersiapkan. Salah satunya adalah dengan menghadirkan pohon Natal di rumah masing-masing.

Namun, datangnya hari raya Natal ini biasanya diiringi dengan munculnya perdebatan di tengah masyarakat tentang hukum seorang Muslim mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani atau siapa saja yang memperingatinya. Tidak jarang, perdebatan itu menimbulkan percekcokan, bahkan vonis mengkafirkan.

Pohon Natal atau Pohon terang yang menjadi salah satu atribut hari raya Natal ternyata juga pernah disinggung dalam Al-Quran.

Menurut Cendekiawan Muslim, Prof. Bambang Saputra, sebagian umat muslim mungkin ada yang masih belum tahu tentang kisah Pohon Terang atau Pohon Natal tersebut. Semoga uraian singkat ini kata Bambang, bisa mengantarkan sedikit pemahaman dan pencerahan bagi kita semua sebagai masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai agama dan bermacam aliran kepercayaan.

Bambang menjelaskan, dalam Al-Qur’an Surah Thâhâ [20]: ayat 10-14 digambarkan bahwa Nabi Musa a.s. melihat Api dari kejauhan. Setelah mendatangi Api itu, Musa a.s. lantas melihat pohon terang laksana terbakar tetapi tidak terbakar. Bagi Musa, pohon terang adalah cahaya milik Tuhan yang melambangkan hadirnya kehidupan baru bagi manusia menuju puncak kesadaran akan Kemahahadiran Tuhan dalam setiap dimensi kehidupan.

“Di balik peristiwa pohon terang itu Musa dipilih Tuhan menjadi Rasul-Nya dan menerima wahyu-Nya. Pohon terang adalah lambang kebijaksanaan (wisdom),” jelas Bambang.

Lebih lanjut Bambang menjelaskan, peristiwa Musa melihat pohon terang (Api) ini sama halnya seperti dilihat Nabi Muhammad SAW, ketika Mi’râj sampai ke Sidrâh al-Muntâhâ. Sidrah adalah pohon yang melambangkan kebijaksanaan dan kearifan. Nabi Muhammad SAW melihat dalam bentuk pohon terang yang diliputi kegermerlapan cahaya. (QS. An-Najm [53]: ayat 12-18). Sedangkan Al-Muntâhâ artinya puncak tertinggi. Sidrâh al-Muntâhâ ini tidak pernah dapat dimasuki siapa pun, termasuk Malaikat Jibril.

Demikian pula secanggih-canggihnya ilmuan di bidang astronomi tidak sanggup menggapainya. Apabila Nabi Muhammad SAW sampai ke Sidrâh al-Muntâhâ (Luth Tree), artinya Nabi Muhammad SAW telah mencapai puncak kearifan yang tertinggi. Tiada lagi puncak kearifan setelah itu sepanjang kemampuan manusia biasa,” urai Bambang.

Maka dari itu, Bambang menilai, dalam agama Semitik atau agama Abrahamistik (agama rumpun Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam), hakikatnya terdapat lambang pohon terang. Keberadaan pohon terang itu idealnya dimaknai sebagai hadirnya cahaya petunjuk bagi manusia menuju puncak kesadaran akan Kemahahadiran Tuhan dalam setiap dimensi kehidupan. Dan, bukan untuk diperdebatkan tanpa dasar pengetahuan dan keinsafan yang mendalam dengan bernada saling merendahkan sehingga sejatinya membuat yang bersangkutan jauh dari kehadiran Tuhan.

Demikian juga pada perayaan Natal ada pohon terang. Namun apakah umat Nasrani memaknai keberadaan pohon terang sebagai lambang keinsyafan untuk menuju kebijaksanaan dan kearifan yang sejati guna mendekatkan diri kepada Tuhan, atau pohon terang hanya sebatas sebagai ornamen/dekorasi pada perayaan Natal, maka semuanya tergantung pada mereka.

“Selamat Hari Natal 2019 dan Tahun Baru 2020, Semoga Kita Semua Mendapatkan Keberkatannya,” tutupnya.

comments icon 0 comments
0 notes
52 views
bookmark icon

Write a comment...

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *